PENERAPAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA DI KELAS VI SD NEGERI 050715 TANJUNG BERINGIN

PENERAPAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA DI KELAS VI SD NEGERI 050715 TANJUNG BERINGIN

 

Aniyar

Guru Kelas VI SD Negeri 050715 Tanjung Beringin Kecamatan Hinai

 Abstract

     Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana menerapkan pendekatan matematika realistik untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal matematika berbentuk cerita. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 050715 Tanjung Beringin berjumlah 34 terdiri dari laki-laki 18 orang dan perempuan 16 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas melalui tiga siklus pembelajaran. Hasil analisis data pada siklus I, II dan III diperoleh: 1) Siswa yang memiliki catatan matematika lengkap sebanyak 52,94% pada siklus pertama; 67,65% pada siklus kedua; dan 88,24% pada siklus ketiga; 2) Siswa yang aktif belajar dalam kelompok sebanyak 61,76% pada siklus pertama; 79,41% pada siklus kedua; dan 94,12% pada siklus ketiga; 3) Siswa yang memahami arti dan makna soal cerita matematika sebanyak 44,12% pada siklus pertama; 55,88% pada siklus kedua; dan 76,47% pada siklus ketiga; 4) Siswa yang senang mengerjakan soal matematika sebanyak 47,06% pada siklus pertama; 64,71% pada siklus kedua; dan 85,29% pada siklus ketiga; dan 5) Siswa yang dapat menjelaskan penyelesaian soal di papan tulis sebanyak 35,29% pada siklus pertama; 52,94% pada siklus kedua; dan 73,53% pada siklus ketiga. Nilai rata-rata diagnosa awal pada siklus pertama sebesar 50,62 dan pada diagnosa akhir 57,26 dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 11 orang. Pada siklus kedua, perolehan nilai rata-rata diagnosa akhir sebesar 64,68 dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 19 orang. Nilai rata-rata diagnosa akhir pada siklus ketiga sebesar 70,76 dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 28 orang.

 

Kata kunci: matematika realistik, soal cerita matematika, kemampuan menyelesaikan soal

 

PENDAHULUAN

     Siswa kelas VI SD Negeri 050715 Tanjung Beringin Kecamatan Hinai mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita Matematika. Beberapa masalah yang ditemukan diantaranya 1) penggunaan kata/bahasa soal cerita Matematika pada umumnya kurang komunikatif sehingga siswa sulit menafsirkan apa yang dimaksud oleh soal tersebut, 2) kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah pada soal sangat lemah sehingga mereka tidak mengetahui dengan konsep apa menyelesaikannya, 3) kemampuan berhitung siswa masih lemah, jika ditemukan penjum­lahan, pengurangan, perkalian dan pembagian terjadi dalam satu pengerjaan, 4) siswa kurang berminat dan tidak termotivasi belajar Matematika karena mereka anggap sulit, 5) kurangnya perhatian guru terhadap motivasi belajar siswa, dan 6) guru kurang mengaitkan materi pelajaran dengan dunia nyata anak-anak terhadap pelajaran yang dipelajarinya.

     Masalah lain yang ditemukan berkaitan dengan aktivitas belajar siswa di rumah adalah 1) kurangnya perhatian orang tua terhadap kegiatan belajar anak di rumah, 2) pada umumnya anak-anak banyak menghabiskan waktunya untuk membantu orang tua ke kebun, dan 3) lebih dari 65% keadaan perekonomian orang tua siswa tergolong lemah.

     Berdasarkan data hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 050715 Tanjung Beringin Kecamatan Hinai selama dua tahun terakhir, khususnya pada pelajaran Matematika pada semester genap, yang diajar dengan menggunakan metode yang konvensial seperti ceramah dan pemberian tugas, menunjukkan 60% siswa belum mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan dengan nilai rata-rata 60,00 sedangkan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan 65,00. Untuk itu sangat penting dilakukan tindakan supaya pembelajaran Matematika dapat bermanfaat bagi guru dan siswa, demikian juga siswa dapat memperoleh hasil belajar di atas atau sama dengan rata-rata ketuntasan minimal yang ditetapkan.

     Tindakan yang dilakukan adalah pembela­jaran Matematika dengan menggunakan Pende­katan Matematika Realistik terutama dalam memberikan contoh-contoh soal atau tugas-tugas yang berbentuk soal cerita. Langkah ini di ambil karena banyak soal Matematika yang terdapat di dalam buku paket bahasanya sangat sulit dipahami oleh siswa. Jadi, guru harus menganalisa bahasa soal cerita tersebut sebelum diberikan kepada siswa dengan bahasa yang mudah dimengerti dan mudah dipahami oleh anak-anak seusia mereka. Guru juga menjelaskan pentingnya mengetahui cara menyelesaikan soal tersebut dengan mengait­kannya ke dalam dunia nyata mereka.

     Pendidikan Matematika Realistik (PMR) merupakan salah satu bentuk pendekatan kontekstual. Ada tiga prinsip utama dalam PMR seperti yang dikemukakan Gravemeijer dalam Armanto (2005), yaitu a) penemuan terbimbing dan bermatematika secara progresif (guided reinvention and progressive mathema­tization), b) fenomena pembelajaran (didactical phenomenology), dan model pengembangan mandiri (self-developed model).

     Penemuan terbimbing berarti siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri konsep Matematika dengan menyelesaikan berbagai soal kontekstual. Soal kontekstual ini meng­arahkan siswa membentuk konsep, menyusun model, menerapkan konsep yang telah diketahui, dan menyelesaikannya berdasarkan kaidah Matematika yang berlaku. Dari penyelesaian soal ini siswa membangun model dari situasi soal, kemudian menyusun model Matematika untuk menyelesaikannya hingga siswa mendapatkan pengetahuan formal Matematika.

     Bermatematika secara progresif dapat dibagi menjadi dua komponen, yaitu bermate­matika secara horizontal dan vertikal (Treffers dan Goffree dalam Armanto, 2005). Dalam bermatematika secara horizontal, siswa mengidentifikasi bahwa soal kontekstual harus ditransfer ke dalam soal bentuk Matematika untuk mudah dipahami lebih lanjut. Sedangkan bermatematika secara vertikal, siswa menyele­saikan bentuk Matematika formal atau tidak formal dari soal kontekstual dengan menggu­nakan konsep, operasi dan prosedur Matematika yang belaku. Siswa menunjukkan hubungan dari rumus yang digunakan, membuktikan aturan Matematika yang berlaku, membandingkan model, menggunakan model yang berbeda, mengkombinasikan dan menerapkan model, serta merumuskan konsep Matematika dan menggeneralisasikanya.

     Pada prinsip kedua menekankan penting­nya soal kontekstual untuk memperkenalkan topik-topik Matematika kepada siswa. Soal kontekstual didefinisikan sebagai soal yang mempresentasikan hadirnya lingkungan yang nyata bagi siswa (Gravemeijer dalam Armanto, 2005). Pengertian nyata tidak hanya sebatas pada apa yang nyata pada pandangan siswa tetapi juga semua hal yang dapat dibayangkan siswa, terjangkau oleh imajinasinya. Dalam hal ini konteks merujuk pada situasi dalam kehidupan sehari-hari, situasi yang bersifat fantasi, dan juga soal matematika itu sendiri. Hal penting yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa soal kontekstual tersebut cocok untuk proses matematisasi dimana siswa dapat mengenal situasinya dan dapat menggunakan pengetahuan mereka untuk memodelkan dan menyelesaikannya.

     Prinsip ketiga adalah pengembangan model mandiri yang berfungsi menjembatani jurang antara pengetahuan Matematika tidak formal dengan Matematika formal dari siswa. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual dari situasi nyata, siswa menemukan model dari…..

Klik Untuk Baca Selengkapnya / DOWNLOAD Dokumen ini