PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP NEGERI 3 SATU ATAP PANGKALAN SUSU

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP NEGERI 3 SATU ATAP PANGKALAN SUSU
Sudiran
Guru IPA-Fisika SMP Negeri 3 Satu Atap Pangkalan Susu
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Pascasarjana
Universitas Negeri Medan
sudiranlangkat@gmail.com

Abstrak.

     Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VII-2 SMP Negeri 3 Satu Atap Pangkalan Susu pada pelajaran Fisika melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Subjek penelitian ini berjumlah 37 orang terdiri dari 17 orang laki-laki dan 20 orang perempuan. Metode penelitian yang diterapkan adalah penelitiantindakan kelas melalui dua siklus pembelajaran, dimana setiap siklus dilakukan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar Fisika siswa ketika diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT mengalami peningkatan untukseluruh aspek keaktifan belajar Fisika. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata persentase keaktifan belajar siswa untuk tiap siklus. Pada siklus I keaktifan siswa sebesar 60,96% dan siklus II sebesar 76,88%. Secara berkelompok, hasil belajar Fisika siswa pada siklus I memperoleh rata-rata 45,91 dan ada dua kelompok memperoleh predikat Great Team dan dua kelompok Good Team. Sedangkan pada siklus II hasil belajar Fisika siswa memperoleh rata-rata 70,06 dan ada tiga kelompok memperoleh predikat Great Team dan dua kelompok menyandang predikat Good Team.

Kata Kunci: aktivitas belajar, model pembelajaran, teams games tournament

PEDAHULUAN

     Suatu kegiatan pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar siswa terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Kemudian siswa menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Berdasarkan hal tersebut di atas, upaya guru dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa sangatlah penting, sebab keaktifan belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.

     Pembelajaran Fisika di SMP merupakan sebuah usaha untuk menanamkan dan melatih siswa agar dapat menguasai pengetahuan, konsep dan prinsip Fisika, memiliki kecakapan ilmiah serta kemampuan kerjasama dalam sebuah kelompok. Tujuan dari pembelajaran Fisika akan tercapai bila dalam proses pembelajaran berjalan dengan baik. Akan tetapi kenyataan dilapangan masih belum sesuai dengan fungsi dan tujuan yang diharapkan. Hasil observasi awal melalui wawancara diketahui banyak siswa yang tidak menyukai pelajaran Fisika. Alasannya adalah proses pembelajaran yang selama ini dilaksanakan terkesan membosankan.

     Berdasarkan data hasil belajar Fisika siswa kelas VII-2 yang diambil dari dokumen hasil belajar siswa kelas VII-2 SMP Negeri 3 Satu Atap Pangkalan Susu Tahun Pelajaran 2011/2012 diperoleh informasi bahwa konsep-konsep pada mata pelajaran Fisika masih dianggap sebagai materi pelajaran yang sulit dipahamioleh sebagian besar siswa. Kesukaran siswa dalam memahami materi Fisika terlihat dari hasil belajar siswa yang masih belum mencapai nilai kriteria keuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan. Hasil pengamatan yang diperoleh sebanyak 70% siswa tidak mencapai standar KKM. Sedangkan hasil pengamatan di dalam kelas selama kegiatan pembelajaran berlangsung, kegiatan belajar siswa lebih didominasi oleh guru. Hal itu sesuai
dengan hasil penyebaran angket yang disebarkan kepada 37 siswa. Sebanyak 86,49% siswa merasa selama pembelajaran berlangsung guru lebih menguasai jalannya kegiatan belajar, sedangkan 16,22% siswa merasa diberi kesempatan untuk aktif. Proses pembelajaran yang dilaksanakan mengakibatkan siswa menerima konsep-konsep yang utuh tanpa melalui pengolahan potensi yang ada pada diri siswa maupun yang ada disekitarnya, pembelajaran lebih bersifat hapalan sehingga menjadi kurang bermakna bagi siswa yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah.

     Untuk mengatasi masalah ini, guru menerapkan kembali model pembelajaran kooperatif tipe TGT yang telah dilaksanan, tetapi masih mengalami beberapa hambatan di fase-fasenya. Pada dasarnya, pembelajaran
kooperatif sangat baik diterapkan di dalam kelas. Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Sebenarnya pembelajaran yang ada di sekolah selama ini telah menerapkan sistem belajar kelompok. Beberapa tugas harus dikerjakan siswa secara berkelompok dan berdiskusi, tetapi hasil

Klik Untuk Baca Selengkapnya / CETAK Dokumen ini