PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X-1 SMA NEGERI 1 TANJUNGPURA PADA PELAJARAN KIMIA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X-1 SMA NEGERI 1 TANJUNGPURA PADA PELAJARAN KIMIA

 

Haroan Siregar

Guru Kimia SMA Negeri 1 Tanjungpura Kabupaten Langkat

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui (1) Bagaimana cara menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, (2) Bagaimana peningkatan aktivitas belajar siswa, serta (3) Bagaimana peningkatan hasil belajar kimia siswa pada proses pembelajaran mendeskripsikan tata nama senyawa anorganik dan senyawa organik sederhana serta persamaan reaksinya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan dua siklus yang dilakukan terhadap 40 siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Tanjungpura Tahun Pelajaran 2012/2013 dari bulan September sampai Nopember 2012. Data Penelitian berupa data aktivitas belajar siswa yang diperoleh melalui observasi dan data hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar  pada siklus I dalam penilaian rendah mencapai 34,00%; sedang mencapai 37,77% dan tinggi mencapai 39,67%,  dan pada siklus II aktivitas siswa dalam penilaian rendah mencapai 16,31%, sedang mencapai 36,84% dan tinggi mencapai 46,84% demikian juga dengan hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata siswa sebesar 71,75 dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 20 orang (50,00%). Pada siklus II nilai rata-rata siswa sebesar 79,22 dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 32 orang (80,00%). Hal ini menunjukkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar mendeskripsikan tata nama senyawa anorganik dan senyawa organik sederhana serta persamaan reaksinya di kelas X-1 SMA Negeri 1 Tanjungpura Tahun Pelajaran 2012/2013.

 

Kata kunci: model pembelajaran kooperatif, aktivitas belajar, hasil belajar, model STAD

 

PENDAHULUAN

     Dalam suatu proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Peran guru sebagai motivator artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengem­bangan kegiatan belejar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamiskan potensi siswa, aktivitas dan kreativitas sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar. Peran sebagai fasilitator artinya guru dalam hal ini memberikan fasilitas atau memudahkan dalam proses belajar mengajar.

     Keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengajar, siswa dan kegiatan pembelajaran adalah tiga faktor yang memiliki peran penting. Pengajar sebagai subjek pembelajaran memiliki tugas dan tanggung jawab atas inisiatif dan pengarah pembelajaran. Siswa dituntut kesediaan dan kesiapannya untuk terlibat langsung secara aktif. Pembela­jaran akan berlangsung dinamis jika terjadi keterpaduan harmonis dan bersifat komple­menter antara aktivitas pengajar dan siswa. Keberhasilan tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan pada diri siswa sesuai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

     Meningkatnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, akan membuat pelajaran lebih bermakna dan berarti dalam kehidupan siswa. Dikatakan demikian, karena (1) adanya keterlibatan intelektual emosional siswa melalui dorongan dan semangat yang dimilikinya, (2) adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam mendengarkan dan memperhatikan apa yang disajikan guru. Siswa kelas X-1 yang berjumlah 40 orang siswa terdiri dari  perempuan 28 orang dan laki-laki 22 orang, terasal dari beberapa siswa kelas X-1 yang berbeda-beda tingkat kemampuannya. Dari hasil observasi yang dilakukan guru di kelas X-1  pada saat siswa mengikuti proses belajar mengajar di kelas  menunjukan aktivitas belajar siswa masih rendah, hal ini dibuktikan saat siswa mengikuti proses diskusi kelas berdasarkan pengamatan guru terdapat 20 (52,63%) siswa pasif tidak menunjukkan aktivitas yang baik, siswa yang berkemampuan tinggi masih sangat mendo­minasi sedangkan siswa yang berkemampuan sedang dan rendah hanya duduk diam dan dari hasil ulangan harian diperoleh nilai rata-rata sebesar 66,68 dengan kriteria ketuntasan minimum (KKM) 75 dan hanya 13 (34,21%) siswa yang tuntas belajarnya, selainnya harus mengalami remedial.

     Agar pembelajaran kimia menjadi pembe­lajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menye­nangkan, dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satu cara yang cukup efektif adalah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD). Dipilihnya model pembela­jaran kooperatif tipe STAD karena dengan model ini proses belajar mengajar meng­aktifkan siswa untuk membangun pengetahuan dan keterampilan secara bersama baik melalui diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Oleh karena itu, perlu diadakan tindakan kelas untuk mengatasi kurang aktifnya siswa dalam belajar, guru akan mempelajari bagaimana mengimple­mentasikan pembelajaran kooperatif tipe STAD secara efisien dan efektif dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran kimia.

     Ada beberapa masalah yang teridentifikasi, diantaranya: (1) Pembelajaran kimia di kelas X-1 berjalan monoton dan berpusat pada keaktifan guru, siswa merasa kurang diaktifkan. (2) Rendahnya aktivitas siswa pada proses pembelajaran kimia pada tahun sebelumnya disebabkan pembelajaran yang seharusnya fokus pada learning, berangkat dari masalah nyata, dan menumbuhkembangkan kemampuan menggunakan keterampilan proses, sementara yang dilaksanakan berfokus pada teaching. (3) Siswa kelas X-1 memiliki kemampuan berbeda-beda, ada yang tinggi, sedang, dan rendah. Namun pada saat diskusi kelas terjadi kesenjangan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah dimana siswa yang berkemampuan tinggi lebih aktif sedangkan siswa yang berkemampuan rendah lebih banyak diam dan mendengarkan saja. (4) Rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran pada pelajaran kimia disebabkan guru dalam proses belajar mengajar meng­gunakan model pembelajaran tipe STAD dengan metode ceramah dan tanya jawab.

     Berdasarkan latar belakang dan identi­fikasi masalah, dapat dirumuskan masalahnya adalah (1) Bagaimana menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) agar dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa pada proses pembelajaran kimia di kelas X-1 SMA Negeri 1 Tanjungpura? (2) Bagaimana peningkatan aktivitas belajar siswa pada pelajaran kimia melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD? (3) Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa…..

Klik Untuk Baca Selengkapnya / DOWNLOAD Dokumen ini