PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BRAINSTORMING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR, KEMAMPUAN KRITIS DAN KREATIF SISWA SMKN-2 KABANJAHE PADA MATERI TRIGONOMETRI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BRAINSTORMING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR, KEMAMPUAN KRITIS DAN KREATIF SISWA SMKN-2 KABANJAHE PADA MATERI TRIGONOMETRI

ADRIAN BARUS
Guru Matematika SMK Negeri 2 Kabanjahe Kabupaten Karo

Abstract

Penelitian bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, kemampuan kritis dan kreatif siswa kelas XI MM-2 SMK Negeri 2 Kabanjahe melalui penerapan model pembelajaran brainstorming. Data-data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis dengan teknik persentase dan memberi penilaian terhadap perolehan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus kedua persentase peningkatan sebesar 35%. Hasil pengamatan terhadap kemampuan kritis siswa juga mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya hasil belajar dan kreativitas siswa. Ini berarti, model pembelajaran brainstorming dapat memberikan sumbangan terhadap peningkatan hasil belajar, kemampuan kritis dan krativitas siswa.

Kata kunci: model pembelajaran, brainstorming, kemampuan kritis, kreatif

Pendahuluan
Dari pengamatan awal terhadap kondisi guru yang mengikuti pembimbingan Penelitian Tindakan Kelas yang semuanya sudah lulus sertifikasi guru, tentunya mereka sudah banyak pengalaman-pengalaman tentang proses belajar mengajar. Kemudian, semua guru pernah mengikuti seminar, pelatihan tentang inovasi pembelajaran dan pelatihan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian (Lemlit) Unimed Medan. Meskipun pengalaman guru sudah banyak, tetapi hasil belajar siswa dan motivasinya selama kegiatan belajar mengajar belum memuaskan, karena masih ada beberapa siswa selama proses KBM ada yang tidak serius, ada yang bercerita, dan ada yang tidak memperdulikan informasi guru. Guru yang dalam hal ini sebagai kepala sekolah melihat kondisi tersebut sering mengajak guru-guru untuk mendiskusikan mengenai kelemahan-kelemahan selama KBM. Solusi yang diambil dari beberapa guru meminta pembimbingan penelitian tindakan kelas ke Lemlit Unimed. Beberapa kali pertemuan dengan pembimbing dari Lemlit Unimed, maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui akar permasalahan guru dan siswa. Hasil diskusi antar guru menghasilkan perubahan cara mengajar atau menerapkan sebuah model pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum KTSP. Berdasarkan kondisi siswa, pada umum-nya guru menemukan adanya perbedaan antara pencapaian tujuan pembelajaran dengan kemampuan yang dicapai oleh siswa. Oleh karena itu, faktor model pembelajaran sangat dominan dan merupakan kunci pokok selama KBM untuk mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan Ahmadi (1991:118) bahwa dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, KBM yang paling pokok, ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana KBM yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Melihat hasil belajar siswa sesuai pengalaman selama mengajar di kelas perlu ada perubahan model-model pembelajaran untuk membangkitkan minat, motivasi belajar siswa selama KBM. Model pembelajaran yang diterapkan selama pengambilan data di Kelas XI MM2 adalah Model Pembelejaran Brainstorming. Dalam model pembelejaran ini disajikan sebuah soal, lalu para siswa diajak untuk mengajukan ide mengenai persoalan itu, tidak peduli betapa aneh, ide-ide yang aneh itu tidak ditolak apriori, tetapi dianalisis, disintesis dan dievaluasi juga, boleh jadi diperoleh pemecahan yang tidak terduga praktisnya. Ditinjau dari segi ilmu jiwa dan ilmu pendidikan dan dasar pemikiran ini sehat. Ada beberapa masalah yang teridentifikasi, yaitu (1) Kurang minat siswa belajar matematika, (2) Kurangnya kesadaran berkelompok untuk mengerjakan tugas-tugas matematika, (3) Sulit menerapkan materi matematika ke materi yang lain, (4) Kurang minat siswa bertanya kepada guru tentang materi matematika, (5) Tugas dirumah tidak signifikan dengan hasil belajar individu. Dari identiifkasi masalah ini, maka rumusan masalahnya adalah (1) Bagaimana hasil belajar siswa setelah menerapkan Model Pembelajaran Brainstorming selama kegiatan belajar mengajar? (2) Bagaimana aktivitas siswa saat bekerja dalam kelompok? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Mengetahui hasil belajar siswa dengan menerapkan Model Pembelajaran Brainstorming selama kegiatan belajar mengajar, (2) Mengetahui aktivitas siswa selama bekerja dalam kelompok. Model Brainstorming Dari sekian banyak teknik berfikir kreatif, brainstroming adalah salah satu teknik yang dapat digunakan secara umum dan dapat digunakan dalam banyak bidang, teknik brainstorming mula-mula dikembangkan Osbron pada tahun 1930-an. Brainstormingdapat didefinisikansebagai satu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang sangat singkat. Brainstroming biasanya merupakan aktifitas kelompok, dimana prinsipnya dapat dipraktekkan sendiri oleh perorangan. Kelompok manusia tidak hanya akan saling melengkapi dalam pengalaman yang luas, tetapi juga pertukaran ide dan saling mengisi. Dalam hal demikian ide seseorang akan dapat merangsang ide orang lain dan akhirnya menjadi suatu ide yang nyata. Model brainstorming adalah model yang bersifat lunak, penggunaan model ini sebagai strategi berdasarkan pendapat bahwa sekelompok manusia dapat mengajukan usul lebih banyak dari anggotanya masing-masing. Dalam model ini disajikan sebuah soal, lalu para siswa diajak untuk mengajukan ide apapun mengenai persoalan itu tidak peduli betapa aneh, ide-ide yang aneh itu tidak ditolak apiori, tetapi dianalisis, disintesis dan dievaluasi juga, boleh jadi diperoleh pemecahan yang tidak terduga praktisnya. Ditinjau dari segi ilmu jiwa dan ilmu pendidikan dan dasar pemikiran ini sehat. Taylor, Berry, dan Black dalam Davis (1985) menyatakan bahwa brainstorming dapat menanam inhibisi pada pemikiran kreatif, karena ide-ide yang terlalu aneh dari beberapa anggota biasanya mengguncangkan gairah berfikir orang lain. Menurut Parnersdan Meadow dalam Davis (1985) menggunakan ide kognitif penemuan Hanger dan Brown berpendapat bahwa brainstroming menghasilkan buah fikir kreatif. Dalam menerapkan model brainstroming dalam mengajar mempunyai empat tahap pokok, yaitu:

  1. Menjelaskan Persolaan, dalam hal ini guru menjelaskan persoalan yang dihadapi dan menjelaskan kepada siswa bagaimana cara berpartisiapsi dalam materi pokok yang akan dilaksanakan.
  2. Merumuskan Kembali persoalan dengan lebih jelas. Merumuskan kembali persoalan berarti meminta kepada siswa untuk meme-riksa kembali persoalan hingga lebih mengerti tentang persoalan yang belum dipahami. Merumuskan kembali persoalan dengan lebih jelas dengan sendirinya membuka jalan keluar atau memberi jawaban yang dapat diterima tanpa perlu adanya brainstroming seterusnya.
  3. Mengembangkan Ide Kreatif yang dihasil-kan. Mengembangkan persoalan yang telah dirumuskan kembali merupakan bagian pokok dari pertemuan dimana diciptakan suasana yang bebas untuk melemparkan ide yang banyak yang menjadi kunci bukanlah kualitasnya tetapi, kuantitasnya.
  4. Mengevaluasi ide yang dihasilkan. Ide yang telah dikemukakan oleh siswa harus dieva….

Klik Untuk Baca Selengkapnya / CETAK Dokumen ini