MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN PKN MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DI KELAS VI SD NEGERI 105325 DALU X-A TANJUNG MORAWA

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN PKN MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DI KELAS VI SD NEGERI 105325 DALU X-A TANJUNG MORAWA

Harmini

Guru Kelas VI SD Negeri 105325 Dalu X-A Tanjung Morawa

Abstrak

     Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran PKN melalui penerapan model pembelajaran make a match. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 105325 Dalu X-A Tanjung Morawa berjumlah 32 orang terdiri dari 16 orang laki-laki dan 16 orang perempuan. Metode penelitian yang diterapkan adalah penelitian tindakan kelas melalui tiga siklus pembelajaran, setiap siklus melalui empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil analisis data diketahui bahwa dari data awal, siswa yang tuntas 21,87% dan pada siklus pertama meningkat menjadi 53,12%; pada siklus II siswa yang tuntas meningkat lagi menjadi 71,87%; dan pada siklus III siswa yang tuntas meningkat menjadi 90,62%. Ini berarti penerapan model pembelajaran make a match dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diketahui dari jumlah siswa yang tuntas pada setiap siklus.

 

Kata kunci: model pembelajaran, make a match, hasil belajar

 

PENDAHULUAN

     Mata pelajaran Pendidikan Kewarga­negaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga Negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajiban untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter sebagaimana yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Tidak terkecuali pada masyarakat, siswa juga dididik dan diajarkan bagaimana menjadi warga negara yang baik, berakhlak dan berkarakter yang baik pula. Bagi siswa tidak cukup hanya itu, tetapi mampu menjelaskan apa yang menjadi hak dan tanggung jawabnya sebagai warga negara melalui pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

     Pada proses pembelajaran murid kurang memahami materi dan kurang semangat dalam mengikuti proses belajar mengajar. Ketidak pahaman siswa terahdap materi pelajaran kemungkinan disebabkan guru kurang mampu menggunakan strategi pembelajaran yang menarik. Dalam hal ini, siswa mengalami masalah dalam belajarnya, ini dapat dilihat dari hasil belajarnya yang tidak mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah di tetapkan.

     Masalah-masalah siswa ini diidentifikasi melalui diskusi atau saling tukar informasi antara guru kelas, tanya jawab dengan siswa secara langsung saat proses pembelajaran dan informasi dari teman-teman siswa sendiri. Masalah yang teridentifikasi diantaranya (1) Siswa kurang memperhatikan ketika guru menjelaskan pelajaran, (2) Guru menjelaskan dengan cara yang cepat membuat siswa bosan atau jenuh, (3) Saat diskusi kelompok, siswa lebih banyak bermain dari pada membicarakan pelajaran, (4) Pertahatian guru kepada siswa tidak fokus. Ketika diberi ulangan harian, hasil ulangan berada di bawah nilai KKM yang ditetapkan, sehingga guru harus meluangkan waktu untuk mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya.

     Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah apakah penerapan model pembelajaran make a match dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di kelas VI-A SD Negeri 105325 Dalu X A Tanjung Morawa? Tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada pelajaran PKn setelah diterapkan model pembelajaran make a match di kelas VI-A SD Negeri 105325 Tanjung Morawa.

     Perlu diketahui bahwa keberhasilan siswa dalam proses belajar mangajar digambarkan oleh hasil belajarnya yang dperoleh dari evaluasi belajar. Keberhasilan belajar seseorang dalam suatu program dapat dapat dilihat berdasarkan perubahan hasil belajar. Ini berarti hasil belajar yang dicapai seseorang diperoleh setelah mengalami proses belajar. Belajar dan mengajar sebagai suatu proses yang mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan yakni tujuan pengajaran (instruksional) dan pengalaman (proses belajar mengajar). Dimana suatu kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran telah dapat dicapai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar diperlihatkan setelah mereka melalui proses belajar mengajar.

     Sudjana (1992), mengemukakan hasil belajar bukan hanya bermanfaat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembela­jaran, tetapi juga sebagai umpan balik bagi upaya memperbaiki proses belajar mengajar. Hasil belajar siswa pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil balajar dalam pengertian mencakup bidang kognitif, efektif, dan psikomotorik. Maka hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimilki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Gagne (dalam Sudjana, 1992) mengemukan 5 kategori hasil belajar, yakni informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motoris. Sedangkan Kingsley (dalam Sudjana, 1992) membagi 3 macam hasil belajar yakni keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, serta sikap dan cita-cita.

Hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

a. Faktor yang datang dari diri sendiri.

1) Kematangan untuk belajar.

Kematangan untuk belajar ada kaitannya dengan pertumbuhan biologis, rtinya pemaksaan untuk belajar sesuatau sebelum sampai tahap kematangan akan menimbulkan akibat yang tidak menyenangkan.

2) Kemampuan atau keterampilan dasar untuk belajar.

Seseorang siswa belajar dengan terlebih dahulu memilki bekal kemampuan yang diprasyaratkan untuk mempelajari sesuatu, maka dia cenderung akan lebih berhasil dalam belajar tentang hal itu.

3) Dorongan yang datang dari luar.

Faktor-faktor yang tergolong di luar diri manusia yang bersangkutan (kondisi eksternal), antara lain mencakup:

  1. Suasana di tempat belajar. Faktor ini merupakan suasana psikologis di sekitar tempat belajar. Suasana penuh ketegangan di dalam kelas dapat memberikan dampak negative terhadap proses dan hasil belajar dan pembelajaran.
  2. Pelatih. Pelatih dalam arti psikologis berarti pengulangan respon suatu terjadinya rangsangan atau stimulus. Makin sering upaya untuk mengulangiterjadi hubungan stimulus respon itu, makin kuat hubungna-hubungan, dan pada gilirannya dapat meningkatkan mutu perilaku ditimbulkan oleh upaya pengulangan itu.
  3. Penguatan. Penguatan terhadap respon yang diberi siswa kepada suatu stimulus pembe­lajaran upaya yang efektif untuk mencapai keberhasilan belajar dan pembelajaran.

     Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya merupakan akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti bahwa optimalnya hasil belajar siswa tergantung pada proses belajar siswa dan mengajar guru.

 

Mata Pelajaran Pendidikan Kewarga­negaraan (PKn)

Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memilki komitmen kuat dan…..

Klik Untuk Baca Selengkapnya / DOWNLOAD Dokumen ini