MENINGKATKAN AKHLAQUL KARIMAH SISWA DENGAN PENERAPAN MODEL ROLE PLAYING PADA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS XII-IPA 4 SMA NEGERI 1 SERUWAY

MENINGKATKAN AKHLAQUL KARIMAH SISWA DENGAN PENERAPAN MODEL ROLE PLAYING PADA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS XII-IPA 4 SMA NEGERI 1 SERUWAY
Muhammad Hatta
Guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 1 Seruway-Aceh Tamiang

ABSTRAK

     Penelitian ini bertujuan meningkatkan akhlaqul karimah siswa kelas XII IPA4SMA Negeri 1 Seruway melalui model role playing. Subjek penelitian berjumlah 38 orang, laki-laki 18 orang dan perempuan 20 orang. Data-data yang diperlukan diperoleh melalui observasi, dokumen siswa, dan catatan guru.Pelaksanaan penelitian ini dilakukan melalui 3 siklus, dengan tahapan: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil analisis data menunjukan bahwa terjadi peningkatan akhlaqul karimah yang indikasikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang memperoleh ketuntasan belajar sebesar 38,23%padasiklus pertama, 58,82% pada siklus kedua dan 97,05% pada siklus ketiga. Peningkatan ini didukung juga dengan peningkatan aktivitas belajar sesuai aspek yang diamati dan juga peningkatan respon siswa terhadap perangkat dan model pembelajaran. Ini berarti, tindakan pembelajaran dengan model role playing dapat meningkatkan akhlaqul karimah siswa.

Kata kunci: akhlaqul karimah,model pembelajaran, model role playing

PENDAHULUAN

     Kemajuan suatu bangsa dipengaruhi oleh akhlak bangsa tersebut. Bangsa yang menjunjung tinggi dan membiasakan akhlak mulia diikuti dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi akan berpotensi menjadi bangsa yang maju, diperhitungkan dalam kancah dunia. Sejarah telah mencatat bahwa kehancuran peradaban suatu bangsa atau musnahnya suatu bangsa,banyak disebabkan oleh akhlak warga negaranya yang tidak terpuji. Pembangunan pendidikan nasional merupakan upanya untuk membentuk manusia unggul yang berkarakter atau berakhlak mulia. Karakter atau akhlak adalah watak, tabiat, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakininya dan digunakannya sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak. Dengan dimiliki karakter atau akhlak yang positif, diharapkan siswa memiliki kompas sebagai pedoman untuk berperilaku. Dalam kehidupan sehari-hari, akhlak mulai terlihat dari perilaku, sikap, perbuatan, adab, dan sopan santun seseorang. Perilaku akhlak mulia merupakan tujuan dari semua agama di dunia ini, karena semua ibadah yang dilakukan bermuara kepada pembinaan akhlak mulia. Sebagai contoh ibadah puasa yang mendidik diri kita untuk mencapai tahap akhlak yang tinggi karena puasa yang sebenarnya bukan hanya puasa dari makanan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari melakukan perbuatan-perbuatan tercela seperti berdusta, mencerca, mengumpat, mengadu domba dan memfitnah. Perilaku akhlak mulia pada siswa hendak-nya menjadi perilaku sehari-hari tidak hanya muncul pada saat tertentu, misalnya pada bulan puasa saja. Untuk menjadikan perilaku akhlak mulia menjadi perilaku sehari-hari, maka sekolah sebagai lingkungan kedua terpenting bagi anak, merupakan lembaga yang bertugas dan berperan dalam pembinaan akhlak mulia. Berbagai upaya dan metode dalam pembiaan akhlak mulia dapat digunakan sepanjang mengacu kepada peraturan yang berlaku dan pedoman yang ada. Bangsa Indonesia yang besar dibangun berdasarkan falsafah luhur pancasila yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Dalam hal ini, pancasila merupakan landasan falsafah dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakatuntuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia seluruh anak bangsa. Dapat dikatakan bahwa sumber nilai-nilai akhlak mulia adalah berdasarkan nilai-nilai agama, pancasila, budaya serta tujuan nasional pendidikan sendiri. Dasar yuridis amanat untuk mewujudkan akhlak mulia sangat jelas, khususnya di bidang pendidikan. Dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3) disebutkan pemerintah mengusahakan dan menyelesaikan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat tersebut dioperasinalkan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 dalam tujuan Pendidikan Nasional. Selengkapnya tujuan tersebut terdapat dalam BAB II Pasal 3, yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis, serta bertanggung jawab. Dalam Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan disebutkan bahwa tujuan pembinaan kesiswaan adalah menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarkat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak azasi…

Klik Untuk Baca Selengkapnya / CETAK Dokumen ini