HUBUNGAN BUDAYA SEKOLAH, KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI, DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PROFESIONALISME GURU SMP NEGERI MARDINGDING KABUPATEN KARO

HUBUNGAN BUDAYA SEKOLAH, KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI, DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PROFESIONALISME GURU SMP NEGERI MARDINGDING KABUPATEN KARO

 

Syadidul Kahar

Program Studi Administrasi Pendidikan-Pascasarjana Unimed

 

Abstrak

     Penelitian ini dibatasi dengan tiga variabel bebas yaitu budaya sekolah, komunikasi antar pribadi guru, dan kecerdasan emosional. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap guru-guru SMP Negeri di Kecamatan Mardingding memperlihatkan bahwa: (1) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara budaya sekolah dengan profesionalisme guru dengan korelasi sebesar 0,52 dan koefisien determinasi 0,27 dengan signifikan 0,02; (2) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara  komunikasi antar pribadi guru dengan profesionalisme guru dengan korelasi 0,60 dan koefisien determinasinya 0,36 dengan signifikan 0,005; (3) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dengan profesionalisme guru dengan korelasi sebesar 0,44 dan koefisien diterminasi 0,19 dengan signifikan 0,05.

 

Kata kunci: budaya sekolah, kecerdasan emosional, profesionalisme guru, komunikasi

PENDAHULUAN

     Pendidikan menurut UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, tercantum pada Pasal 1  ayat (1), bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dipertlukan dirinya, masyarkat, bangsa dan Negara. Dalam hal ini berarti ada tiga unsur pokok dalam kegiatan pendidikan, yaitu (1) bimbingan; (2) pengajaran; (3) latihan. Penye­lenggaraan pendidikan di Indonesia merupakan suatu sistem pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

     Fungsi pendidikan harus betul-betul diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional sebab tujuan berfungsi sebagai pemberi arah yang jelas terhadap kegiatan penyelenggaraan pendidikan. Sehingga penyelenggaraan pendidikan harus diarahkan kepada; (1) pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa; (2) pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna; (3) pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat; (4) pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran; (5) pendidikan diseleng­garakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat; dan (6) dengan memberda­yakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penye­lenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

     Peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pendidikan. Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan. Guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peran penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan figur guru mesti terlibat dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (Djamarah, 2000).

     Guru harus berkemampuan yang meliputi penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, pengua­saan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya, disamping itu guru harus merupakan pribadi yang berkembang dan bersifat dinamis. Ini berarti  profesionalisme guru dalam pendidikan sangat dituntut dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ini berarti, profesionalisme guru merupakan sikap seorang guru untuk melakukan tugasnya secara profesional. Tugas guru meliputi perencana, pelaksana sekaligus sebagai evaluator pembelajaran di kelas, maka peserta didik merupakan subjek yang terlibat langsung dalam proses untuk mencapai tujuan pendidikan (Sagala, 2011).

     Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membim­bing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa.

     Demikianlah dalam proses belajar mengajar guru tidak terbatas sebagai penyampai ilmu pengetahuan akan tetapi lebih dari itu ia bertanggung jawab akan keseluruhan perkem­bangan kepribadian siswa ia harus mampu menciptakan proses belajar yang sedemikian rupa sehingga dapat merangsang siswa muntuk belajar aktif dan dinamis dalam memenuhi kebutuhan dan menciptakan tujuan. Begitu pentingnya peranan guru dalam keberhasilan peserta didik maka hendaknya guru mampu beradaptasi dengan berbagai perkembangan yang ada dan meningkatkan kompetensinya sebab guru pada saat ini bukan saja sebagai pengajar tetapi juga sebagai pengelola proses belajar mengajar.

     Sebagai orang yang mengelola proses belajar mengajar tentunya harus mampu meningkatkan kemampuan dalam membuat perencanaan pelajaran, pelaksanaan dan penge­lolaan pengajaran yang efektif, penilain hasil belajar yang objektif, sekaligus memberikan motivasi pada peserta didik dan juga membim­bing peserta didik terutama ketika peserta didik sedang mengalami kesulitan belajar.

     Djojonegoro dalam Sagala (2011) menga­takan, profesionalisme dalam suatu pekerjaan ditentukan oleh tiga faktor penting yakni (1) memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesia­lisasi; (2) memiliki kemampuan memperbaiki; (3) memproleh penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian tersebut. Jadi, tanpa  guru yang profesional maka guru tidak akan mampu mencapai tujuan pendidikan secara efektif.

     Guru dituntut harus memiliki kompetensi sebagai guru yang profesional. Kompetensi merupakan peleburan dari pengetahuan, sikap, keterampilan yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan (Sagala, 2011). Menurut Sagala, kompetensi profesi guru mengandung tiga aspek (1) kemampuan, pengetahuan, kecakapan, sikap, sifat, pemahaman, apresiasi dan harapan yang menjadi karakteristik seseorang dalam menjalankan tugas; (2) ciri dan karakteristik kompetensi yang digambarkan dalam aspek pertama itu tampil nyata dalam tindakan; (3) Suatu tindakan itu memenuhi suatu kriteria standar kualitas tertentu. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa, seorang guru yang profesional harus memiliki pengetahuan teori…

Klik Untuk Baca Selengkapnya / DOWNLOAD Dokumen ini