ANALISIS PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY DENGAN MENGGUNAKAN MACROMEDIA FLASH DIKAITKAN DENGAN KECERDASAN LOGIK MATEMATIK TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMAN 1 KOTA SUBULUSSALAM

ANALISIS PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY DENGAN MENGGUNAKAN MACROMEDIA FLASH DIKAITKAN DENGAN KECERDASAN LOGIK MATEMATIK TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMAN 1 KOTA SUBULUSSALAM

 Khoirul Amri Hasibuan dan Nurdin Bukit

Jurusan Pendidikan Fisika Pasca sarjana Universitas Negeri Medan

Guru Fisika SMA N 1 Simpang Kiri Kota Subulussalam.

email: amry.hasibuan@gmail.com

 ABSTRAK

     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar Fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran guided discovery dan model pembelajaran ekspositori, perbedaan hasil belajar siswa yang memiliki kecerdasan logik matematik tinggi dan kecerdasan logik matematik rendah, dan interaksi antara model pembelajaran dan kecerdasan logik matematik dalam mempengaruhi hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XII IPA SMA Kota Subulussalam yang berjumlah 7 kelas. Sampel penelitian ini ditetapkan siswa kelas XII IPA-3 dilakukan model pembelajaran guided discovery dan siswa kelas XII IPA-2 dilakukan model pembelajaran ekspositori. Teknik penarikan sampel dilakukan cluster random sampling. Metode penelitian menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain penelitian faktorial 2×2. Teknik analaisis data menggunakan ANAVA dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar Fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran guided discovery dan model pembelajaran ekspositori. Siswa yang menggunakan model pembelajaran guided discovery memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi. Ada perbedaan hasil belajar Fisika siswa yang memiliki kecerdasan logik matematik tinggi dan kecerdasan logik matematik rendah. Siswa yang memiliki kecerdasan logik matematik tinggi memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan kecerdasan logik matematik dalam mempengaruhi hasil belajar Fisika siswa.

 Kata kunci: guided discovery learning, intelligence logic mathematic, physics teaching and learning

PENDAHULUAN

     Rendahnya nilai ujian harian merupakan masalah pendidikan yang tidak dapat lepas dari masalah pembelajaran, karena pembelajaran merupakan inti dari proses peningkatan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan mengacu pada upaya peningkatan kualitas proses dan hasil belajar. Suatu sistem pendidi­kan dikatakan bermutu dari segi proses, jika pembelajaran berlangsung secara efektif dan siswa mengalami pembelajaran yang bermakna serta didukung oleh sumber daya yang memadai.

     Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, mediator, dan pembimbing. Jadi guru hanya dapat membantu proses perubahan pengetahuan di kepala siswa melalui perannya menyiapkan scaffolding dan guiding, sehingga siswa dapat mencapai tingkatan pemahaman yang lebih sempurna dibandingkan dengan pengetahuan sebelumnya. Guru menyiapkan tanggga yang efektif, tetapi siswa sendiri yang memanjat melalui tangga tersebut untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam.

     Berdasakan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 5 maret 2012 di SMA Negeri 1 Subulussalam, ditemukan bahwa guru masih mengajar secara konvensional yang dominan menerapkan strategi ekspositori, sehingga siswa cenderung pasif, individual, dan kurang berparti­sipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Sanjaya (2008) strategi pembelajaran ekspositori lebih menekankan kepada proses pencapaian materi secara verbal dari seorang guru kepada kelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Penggunaan media juga masih kurang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran sehingga siswa cenderung mempelajari hal-hal yang bersifat abstrak dan menghapal konsep-konsep yang ada dalam Fisika tanpa menge­tahui terciptanya konsep serta unsur yang terkandung dalam suatu konsep. Selain itu ditemukan hasil belajar relatif rendah pada mata pelajaran Fisika. Hal ini terlihat dari nilai perolehan siswa pada mata pelajaran Fisika, yaitu pada memperoleh hasil belajar 65 ke atas pada mata pelajaran Fisika tidak mencapai 85% seperti yang diharapkan kurikulum.

     Salah satu cara merancang pembelajaran IPA agar pembelajaran efektif yang member­dayakan potensi siswa adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) (Depdiknas, 2003). Untuk itu dibutuhkan SDM guru yang mampu merancang pembelajaran yang dapat mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

     Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk hal ini, seperti hasil penelitian Balim (2009), Yunginger (2010) keduanya menyatakan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam hal prestasi setelah diimplikasikan pembelajaran discovery. Pene­litian serupa dilakukan oleh Amalia (2009) menyimpulkan bahwa respon siswa pada umumnya positif terhadap penerapan pembela­jaran dengan bervariasinya metode pembelajaran, yaitu simulasi komputer dan discovery learning.

     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar Fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran guided discovery dengan model pembelajaran eksposi­tori, perbedaan hasil belajar Fisika siswa yang memiliki kecerdasan logik matematik tinggi dan kecerdasan logik matematik rendah, dan interaksi antara model dan kecerdasan logik matematik dalam mempengaruhi hasil belajar siswa.

METODE PENELITIAN

     Penelitian ini dilakukan di kelas XII IPA SMA Kota Subulussalam yang berjumlah 7 sekolah pada bulan Juli sampai September 2012. Sampel penelitian ini ditetapkan siswa kelas XII IPA-3 dilakukan model pembelajaran guided discovery dan siswa kelas XII IPA-2 dilakukan model pembelajaran ekspositori. Teknik penarikan sampel dilakukan cluster random sampling. Instrumen untuk mengukur hasil belajar Fisika siswa digunakan tes berbentuk essai dengan jumlah sebanyak 8 butir. Kecerdasan logik matematik siswa dilakukan dengan angket. Metode penelitian menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain penelitian faktorial 2×2. Teknik analaisis data menggunakan ANAVA dua jalur dengan bantuan SPSS 17. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes kognitif hasil belajar siswa dan angket kecerdasan logik matematik, dan kedua instrumen sudah divalidkan sebelum digunakan. Instrumen penelitian ini disusun oleh peneliti berdasarkan indikator dan divalidasi oleh ahli.

HASIL DAN PEMBAHASAN

     Untuk menguji kemampuan awal kedua kelompok digunakam uji Levene’s Test dengan melihat hasil pretes kedua kelompok. Dari hasil pengujian diperoleh sign = 0,85 artinya sign > α, dengan demikian dinyatakan bahwa kedua….

Klik Untuk Baca Selengkapnya / DOWNLOAD Dokumen ini